Baik, ini kisah "Janji yang Diucapkan di Antara Mayat" dalam gaya Dracin intens, dengan penekanan pada suasana berat, ketegangan, dan bahasa puitis: **Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Malam itu *ABADI*. Bukan karena keindahan bulan yang bersembunyi di balik awan kelabu, melainkan karena dingin yang menusuk tulang, seolah kematian sendiri bernapas di tengkuk. Salju merah merekah di bawah kaki, tercemar oleh darah yang mengalir dari mayat-mayat yang berserakan. Dupa terbakar dengan aroma pahit, asapnya menari seperti jiwa-jiwa yang tersesat, mengantarkan doa yang tak terjawab. Di tengah kengerian itu, berdiri Lin Mei, dengan jubah putih yang ternoda. Wajahnya pucat pasi, namun matanya membara dengan *DENDAM* yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Di hadapannya, berlutut Jiang Wei, pria yang pernah menjadi kekasihnya, kini menjadi musuh abadinya. "Lin Mei... kumohon..." bisik Jiang Wei, suaranya parau. Darah mengalir dari lukanya, membasahi salju di bawahnya. Lin Mei menertawakan permohonan itu. Tawa tanpa kebahagiaan, hanya gema kepedihan yang bergema di antara keheningan malam. "Kumohon? Kau ingat kata itu, Jiang Wei? Kau ingat janji yang kau ucapkan di bawah pohon sakura saat musim semi? Janji untuk melindungiku?" Kenangan pahit itu melayang di udara, seolah kabut yang menyesakkan. Dulu, mereka adalah dua jiwa yang terikat oleh cinta yang membara. Namun, api itu dipadamkan oleh *PENGKHIANATAN* dan rahasia kelam yang terkubur dalam sejarah keluarga mereka. "Aku... aku terpaksa," Jiang Wei mencoba membela diri. "Terpaksa?" Lin Mei mendekat, matanya menatap tajam. "Terpaksa membunuh ayahku? Terpaksa menghancurkan hidupku? *TERPAKSA* menikahi wanita lain demi kekuasaan?" Setiap kata yang diucapkannya adalah belati yang menusuk jantung Jiang Wei. Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan darah. Lin Mei mengangkat pedangnya, cahaya bulan memantul dari bilahnya yang tajam. "Kau mencuri segalanya dariku, Jiang Wei. Kebahagiaanku, keluargaku, *HIDUPKU*. Sekarang, aku akan mengambil semuanya darimu." Jiang Wei menutup matanya, pasrah pada takdirnya. Di antara isak tangis dan aroma dupa, Lin Mei mengucapkan janji terakhirnya. Janji yang diucapkan di atas abu masa lalu, janji balas dendam yang dingin dan mematikan. Pedang itu menebas dengan presisi, mengakhiri riwayat Jiang Wei dengan satu ayunan. Lin Mei berdiri di sana, di tengah lautan mayat dan salju merah, dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Balas dendamnya telah terbayar, namun hatinya tetap kosong. Senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang lebih menakutkan daripada amarah. "Keadilan telah ditegakkan..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Namun, di dalam kedalaman matanya, terpancar bayangan yang jauh lebih gelap, bayangan yang mengisyaratkan bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Bayangan yang berbisik bahwa *balas dendam hanyalah permulaan*. Dan suara angin malam membawa bisikan itu pergi, menyebar ke seluruh penjuru, meninggalkan satu pertanyaan yang menggantung: **Siapakah yang akan menjadi korban berikutnya?**
You Might Also Like: Unveiling Flavors Of Home Your
Share on Facebook