**Kau Tersenyum dalam Kabut, Tapi Aku Tahu Kau Bukan Lagi Manusia** Di antara kabut *LUNAS* yang berarak di Bukit Seribu Bunga, di sanalah pertama kali kulihat senyummu. Senyum yang membelah keremangan pagi seperti seberkas cahaya rembulan, senyum yang membangkitkan bunga-bunga tersembunyi di hatiku. Kau berdiri di sana, siluet anggun berbalut sutra seputih salju, seolah baru saja terlahir dari buih mimpi. Wajahmu, sehalus pualam yang dipahat oleh angin, terbingkai oleh rambut hitam legam yang menari-nari ditiup desahan angin. Matamu, *DANAU GEMILANG* yang menyimpan rahasia bintang-bintang, menatapku dengan kelembutan yang membuatku merasa bagai raja yang terlupakan. Hari-hari kami berlalu seperti lukisan tinta di atas kanvas kabut. Kita berbagi rahasia di bawah pohon sakura yang *ABADI*, tertawa di tengah rintik hujan musim semi, dan berdansa di bawah langit malam yang bertabur permata. Setiap sentuhanmu terasa bagai *SENTUHAN MIMPI*, setiap bisikanmu bagai melodi kuno yang terlupakan. Namun, bayangan aneh selalu menghantui kebahagiaanku. Kadang, matamu memancarkan kilatan dingin yang asing. Kadang, kau menghilang di tengah malam, meninggalkan aroma misterius yang tak bisa kupahami. Aku berusaha menepis keraguan, berusaha meyakinkan diri bahwa ini adalah *NYATA*, bahwa kau adalah *MILIKKU*. Di sebuah malam yang diterangi cahaya rembulan *DARAH*, aku menemukan kotak kayu tua terkunci di kamarmu. Dengan gemetar, aku membukanya. Di dalamnya, tersimpan jimat kuno, potongan-potongan rambut hitam, dan sebuah lukisan dirimu, bukan sebagai wanita, melainkan… sebagai *ROH KUNO*, siluman yang telah hidup selama berabad-abad. Senyummu yang selalu kubanggakan, ternyata hanyalah *TOPENG*. Kelembutanmu, hanyalah *ILUSI*. Kau, bukan lagi manusia. Kau adalah bagian dari legenda yang seharusnya tak pernah kutemui. Rasa sakit menghantamku bagai badai dahsyat. Kebahagiaanku hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang tak mungkin sembuh. Namun, di saat yang sama, aku merasa… *BEBAS*. Bebas dari mimpi, bebas dari kebohongan. Dan saat itu, kau muncul, di tengah kabut yang semakin pekat. Senyummu masih mempesona, tapi sekarang aku melihatnya dengan mata yang berbeda. Aku melihat kesedihan abadi di baliknya, kesepian yang tak tertahankan. Kau berbisik, suaramu bergetar bagai *GEMA DARI NERAKA*. "Aku mencintaimu, meskipun aku bukan siapa yang kau kira…" Dan di sanalah, di tengah kepingan hati yang hancur, aku mengerti. Cinta ini memang tak nyata, tapi *KEINDAHANNYA* membuat lukaku semakin dalam. _"Kau adalah kabut yang tak akan pernah bisa kugenggam…"_
You Might Also Like: Cerita Seru Kau Mencariku Dalam Doa Dan
Share on Facebook