Cerita Populer: Aku Mencintaimu Bahkan Ketika Waktu Menolak Mengulang
Debu musim gugur menari di bawah sinar senja yang meredup, persis seperti kenangan yang berputar-putar di kepalaku. Di bawah pohon Mapel tua yang menjadi saksi bisu janji-janji kami, aku berdiri. Menunggu. Seperti dulu.
Lima belas tahun. Lima belas tahun sejak kau meninggalkanku di bangku taman ini, dengan alasan yang kau bisikkan seperti angin lalu: "Untuk kebaikanmu."
Kebaikan? Apakah kebaikan itu berarti menyaksikanmu menikah dengan wanita lain, membangun keluarga yang harusnya menjadi milikku?
Dulu, jemarimu begitu hangat menggenggam tanganku, menjanjikan selamanya. Dulu, matamu memancarkan cinta yang membuatku percaya waktu akan berhenti untuk kita. Tapi waktu terus berjalan, bahkan ketika hatiku berhenti berdetak pada hari itu.
Hari ini, kau kembali. Wajahmu dipenuhi kerutan penyesalan, mata yang dulu bersinar kini redup oleh beban hidup. Kau mencoba meraih tanganku, tetapi aku menghindar.
"Lin Mei..." suaramu bergetar.
Aku tersenyum pahit. "Kau terlambat, Zhang Wei. Terlalu terlambat."
Kau bercerita tentang betapa kau menyesal, tentang tekanan keluarga, tentang betapa kau selalu mencintaiku. Kata-kata itu jatuh seperti debu, tidak mampu menutupi luka yang menganga selama bertahun-tahun.
"Aku tahu, Lin Mei. Aku tahu aku melakukan kesalahan BESAR. Maafkan aku." Kau berlutut di hadapanku, memohon.
Aku menunduk, menatap tanah yang dulu menjadi saksi bisu janji suci kita. Di kejauhan, aku melihat seorang gadis kecil berlari ke arahmu. Putrimu. Wajahnya sangat mirip ibunya, wanita yang merebutmu dariku.
Aku menghela napas panjang. "Sudah kubilang, Zhang Wei. Kau terlambat."
Tiba-tiba, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menabrakmu tepat di depan mataku. Teriakan putus asa putri kecilmu memecah kesunyian senja.
Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya berdiri di sana, menyaksikan takdir menuntut keadilan. Polisi tiba, ambulans meraung, tetapi semua itu sudah terlambat. Zhang Wei, pria yang dulu kucintai, kini tergeletak tak bernyawa di bawah pohon Mapel yang sama.
Aku berbalik, meninggalkan tempat itu, dengan satu kalimat menggantung di bibirku: Mungkin ini adalah caraku untuk mengatakan, aku akan mencintaimu selamanya, atau... mungkin, inilah harga yang harus kau bayar.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Jualan Kosmetik