Judul: Sisa Aroma Bunga Plum di Musim Dingin Hujan menggigil mengguyur Kota Terlarang, membasahi atap-atap genting yang dulu bersinar keemasan. Kini, pantulannya di lantai batu menyerupai air mata yang tak terhitung jumlahnya. Di paviliun terpencil, *Lady Lian*, janda Kaisar terdahulu, berdiri memandang taman yang dulunya saksi bisu cintanya dengan Jenderal Rong. Lima belas tahun. Lima belas tahun sejak Jenderal Rong, kekasih hatinya, menikahi saudara perempuannya, Putri Mei. Lima belas tahun sejak ia dipaksa menjadi selir Kaisar, terkunci dalam sangkar emas yang berkilauan. Lentera di tangannya berkedip-kedip, cahayanya nyaris padam. Seperti harapan. Seperti hatinya yang perlahan membatu. Ia ingat tatapan terakhir Rong padanya, penuh penyesalan yang tak terucap. Penyesalan yang ia genggam erat, seperti duri yang terus menusuk-nusuk. Bayangan di dinding menari-nari, mempermainkannya dengan kenangan masa lalu. Kenangan tentang tawa mereka di bawah pohon plum yang sedang berbunga. Aroma manis yang dulu memabukkan, kini terasa pahit di lidah. Seorang kasim mendekat, membungkuk dalam. "Lady Lian, Yang Mulia Kaisar meminta kehadiran Anda di Ruang Tahta." Lian mengangguk tanpa emosi. Wajahnya pucat, nyaris transparan. Ia mengikuti langkah kasim, melewati koridor panjang dan dingin. Setiap langkahnya terasa berat, ditarik oleh beban masa lalu. Di Ruang Tahta, Kaisar, yang tak lain adalah keponakannya sendiri, menyambutnya dengan senyum tipis. Di sampingnya, Jenderal Rong berdiri tegak, seragam militernya berkilauan di bawah cahaya lampu. Wajahnya masih tampan, namun ada kerutan di dahinya, tanda beban yang sama beratnya dengan yang Lian pikul. "Bibi," sapa Kaisar, suaranya dingin. "Saya ingin mengumumkan penobatan Jenderal Rong sebagai *Perdana Menteri*." Lian mengangguk, sekali lagi tanpa emosi. Ia melihat ke arah Rong. Mata mereka bertemu. Sekilas, ia melihat bukan penyesalan, tapi… *kepastian*. Malam itu, di kamarnya yang sunyi, Lian membuka sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya, tersimpan *jarum perak* yang dulu ia gunakan untuk menyulam. Jarum itu kini diasah tajam, berkilauan di bawah cahaya bulan. Ia ingat semua percakapan rahasia yang ia curi dengar selama lima belas tahun ini. Semua informasi penting, semua kelemahan musuh, semua rencana pengkhianatan. Semua ia catat, ia simpan, ia rencanakan. Lian berdiri, gaun sutranya berkibar lembut. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang pucat. *Balas dendam* adalah bunga yang paling indah, pikirnya. Bunga yang mekar di musim dingin, di atas kuburan cinta. Saat fajar menyingsing, sebuah dekrit kerajaan diumumkan. Kaisar ditemukan tewas di kamarnya, diracun dengan *bunga plum*. Jenderal Rong ditangkap atas tuduhan pengkhianatan dan dijatuhi hukuman mati. Lady Lian, yang selama ini tampak lemah dan tak berdaya, diangkat menjadi *Wali Kaisar*, memimpin sementara sampai pewaris sah ditemukan. Di penjara bawah tanah, Rong menatap Lian melalui jeruji besi. Ia berbisik, "Kau… kau yang merencanakan semuanya?" Lian tersenyum. "Apakah kau lupa, Jenderal? *Takhta yang Tertulis di Bintang*… tertulis juga nama *yang akan merebutnya kembali*." Kemudian, dengan suara pelan namun menusuk, Lian mengungkap rahasia yang selama ini tersembunyi: "Sebenarnya, Putri Mei tidak pernah mengandung anakmu. *Putra Mahkota yang akan diangkat, adalah putraku*."
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Skincare
Share on Facebook