**Kau Memakai Cincin dari Dia, Tapi Hatimu Masih Berdetak untukku** Hujan selalu datang saat bulan purnama. Di atas pusara Lin Yi, kelopaknya jatuh seperti air mata yang tak henti. Tanah basah dan dingin. Sepi. Senyap yang menyayat. Lin Yi berdiri di sana, tak terlihat, tak teraba, namun *HADIR*. Dulu, dia adalah napas di tenggorokan Qin Mei, gelak tawa di pipinya yang merona, impian yang mereka rajut di bawah bintang-bintang. Sekarang, dia hanya bayangan. Bayangan yang menolak pergi. Qin Mei berdiri di depan batu nisan, gaun merah anggurnya berkibar tertiup angin malam. Di jarinya, cincin emas bertahtakan berlian, pemberian dari Li Wei, tunangannya. Tapi matanya, matanya kosong. "Apakah kau bahagia?" bisik Lin Yi, suaranya hanya gaung di antara pepohonan. Pertanyaan yang takkan pernah terjawab. Dia kembali bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk mengganggu. Dia kembali karena ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang beratnya seperti batu di dasar danau, membungkam semua suara. Setiap malam, Lin Yi mengamati Qin Mei. Melihatnya tersenyum paksa pada Li Wei, melihatnya termenung menatap foto mereka berdua, foto yang diambil di bawah pohon sakura yang sama dengan pohon sakura yang tumbuh di atas makamnya. Dia melihat *KESEDIHAN* yang disembunyikan Qin Mei begitu rapat. Lin Yi mencari tahu apa yang mengganjal. Mengikuti jejak langkahnya, menyelami ingatan yang berceceran di setiap sudut kota ini. Di kafe tempat mereka pertama kali bertemu, di taman tempat mereka berjanji sehidup semati, di jembatan tempat mereka menaruh gembok cinta. Setiap tempat memancarkan aroma kerinduan yang begitu kuat, menusuk jantungnya yang sudah tak berdetak. Dia menemukan petunjuk demi petunjuk. Surat-surat cinta yang disembunyikan Qin Mei di balik cermin. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk separuh hati yang patah. Sebuah lukisan dirinya yang belum selesai. Akhirnya, dia menemukan kebenaran di balik kematiannya. Sebuah *PENGKHIANATAN* yang begitu keji, tersembunyi di balik senyum manis seorang teman, di balik jabatan tangan seorang kolega. Lin Yi tidak mencari balas dendam. Ia tidak ingin melihat Li Wei menderita, atau Qin Mei meratap. Ia hanya ingin Qin Mei tahu kebenaran. Ia ingin beban di hatinya terangkat. Ia ingin melihat Qin Mei *BAHAGIA*. Malam itu, hujan turun lebih deras. Lin Yi berdiri di samping Qin Mei, menatap cincin di jarinya. "Kau memakai cincin dari dia, tapi hatimu masih berdetak untukku," bisiknya. Tiba-tiba, angin berhembus kencang, menerbangkan selembar kertas dari tangan Qin Mei. Kertas itu melayang, menari-nari di udara, sebelum akhirnya mendarat di kaki Lin Yi. Itu adalah surat dari Qin Mei, ditujukan kepadanya. Surat yang tak pernah terkirim. Di dalam surat itu, tertulis semua keraguan, semua ketakutan, semua cinta yang tak terucapkan. Lin Yi membacanya dengan air mata (atau mungkin hanya tetesan hujan) yang mengalir di wajahnya. Akhirnya, dia mengerti. Yang ia cari selama ini bukanlah balas dendam, tapi *KEDAMAIAN*. Qin Mei menunduk, lalu mengangkat wajahnya. Dia merasakan kehadiran Lin Yi. Dia tahu, di suatu tempat, Lin Yi ada di sana. "Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu semuanya." Lin Yi tersenyum. Sebuah senyuman tulus, senyuman yang sudah lama hilang. Beban di hatinya terangkat. Akhirnya, dia bisa pergi dengan tenang. Dan di saat itu, bayangan Lin Yi memudar, perlahan menghilang ditelan hujan… *setidaknya, itulah yang diinginkannya.*
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Menangkap Ular Kobra
Share on Facebook