Oke, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Tangisan yang Mengalir Tanpa Sesal', dengan sentuhan yang Anda inginkan: **Tangisan yang Mengalir Tanpa Sesal** Kabut lavender menyelimuti Danau Bulan Sabit, tempat Lian Hua sering termenung. Di kehidupan ini, ia hanyalah seorang pelukis muda yang dipuja karena kemampuannya menangkap keindahan dunia dalam setiap goresan kuas. Namun, ada satu lukisan yang tak pernah berhasil ia selesaikan: potret seorang pria dengan mata setajam elang dan senyum sehangat mentari pagi. Sosok itu **MENGHANTUINYA** dalam mimpi, dalam setiap tetes tinta yang menetes di atas kertas. Ia merasa _déjà vu_ yang begitu kuat setiap kali melewati Gerbang Vermillion, gerbang yang konon menghubungkan dunia manusia dengan alam baka. Di sanalah, bisikan-bisikan masa lalu mulai menghantuinya. Fragmen-fragmen ingatan berputar-putar seperti serpihan kaca: jubah sutra berwarna zamrud, aroma dupa cendana, dan… **pengkhianatan**. Lian Hua dulunya adalah Putri Lian, pewaris takhta Kerajaan Giok. Ia memerintah dengan bijaksana dan dicintai rakyatnya. Namun, cintanya pada Jenderal Wei, pria yang dipotretnya dalam mimpi, ternyata beracun. Wei, yang tergiur tahta, bersekongkol dengan para pemberontak dan membunuh Lian Hua dalam *pertempuran berdarah*. Kenangan itu **MENYAKITKAN**. Di kehidupannya saat ini, Wei adalah seorang pedagang kaya raya, Tuan Zhao. Ia memiliki semua yang diidamkan orang: kekayaan, kekuasaan, dan istri cantik. Namun, mata Lian Hua, kini sebagai pelukis, melihat lebih dari itu. Ia melihat bekas luka masa lalu, jejak dosa yang tak bisa dihapus oleh waktu. Suatu hari, Tuan Zhao memesan potret dirinya pada Lian Hua. Ia ingin mengabadikan kejayaannya. Lian Hua menerimanya dengan senyum tipis. "Tuan Zhao menginginkan potret keabadian?" tanyanya lembut. "Tentu saja. Aku ingin dikenang selamanya," jawab Tuan Zhao, pongah. Lian Hua melukis dengan sepenuh hati. Namun, ada satu perbedaan mencolok. Dalam potret itu, mata Tuan Zhao tidak setajam elang, melainkan redup dan penuh ketakutan. Senyumnya tidak sehangat mentari, melainkan dingin dan sinis. Ia melukis *jiwa* Tuan Zhao yang sebenarnya. Ketika Tuan Zhao melihat potret itu, ia terkejut. Ia marah, namun ada sesuatu dalam tatapan Lian Hua yang membuatnya membisu. Lian Hua tidak membalas dendam dengan pedang atau racun. Ia hanya menunjukkan padanya *kebenaran* tentang dirinya sendiri. Kebenaran yang akan menghantuinya selamanya. Lian Hua kemudian menggunakan uang yang diterimanya untuk mendirikan sebuah panti asuhan, tempat ia mengajarkan anak-anak melukis dan bermimpi. Ia menciptakan keindahan dari reruntuhan masa lalu. Ia memilih untuk membangun, bukan menghancurkan. Di bawah cahaya rembulan, Lian Hua menatap potret Tuan Zhao yang tersembunyi di balik kanvas lain. Ia tahu, keputusannya telah mengubah takdir mereka berdua. *Mungkin, di kehidupan berikutnya, aku akan memberimu kesempatan untuk menebus dosa-dosamu, Wei… atau mungkin tidak.*
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Peluang Usaha Ibu Rumah
Share on Facebook