Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Rahasia yang Mengguncang Singgasana': *** **RAHASIA YANG MENGGUNCANG SINGGASANA** Lorong Istana Naga mengular dalam sunyi. Obor-obor redup menari-nari, melemparkan bayangan aneh ke dinding-dinding batu yang dingin. Udara berbau dupa cendana yang pahit, seolah menyimpan ratapan dari masa lalu. Di ujung lorong, berdiri tegak seorang pria. Punggungnya menghadap gerbang utama, jubah sutra hitamnya menyatu dengan kegelapan. Wajahnya tersembunyi, namun aura misteri menguar kuat darinya, seperti kabut pegunungan yang menyelimuti rahasia kelam. Dia adalah Wei Jun, sang pangeran yang **DIANGGAP** tewas sepuluh tahun lalu. "Kau kembali," suara serak menyapa dari belakang. Kaisar Li berdiri di ambang pintu kamarnya, wajahnya dipenuhi garis-garis kekhawatiran yang dalam. Wei Jun berbalik perlahan. Tatapannya lurus, tajam bagai pedang yang baru diasah. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku." "Hakmu?" Kaisar Li mendengus. "Kau sudah lama mati, Wei Jun. Apa yang membuatmu berpikir kau berhak atas apa pun sekarang?" "Kematian adalah *tipuan*, Ayah. Seperti halnya tahta ini." Wei Jun melangkah mendekat, suaranya lirih namun menusuk. "Sepuluh tahun lalu, kau mengirimku ke medan perang *tanpa bekal*. Kau berharap aku mati, bukan?" Kaisar Li terdiam, wajahnya memucat. "Aku… aku hanya ingin menguji kemampuanmu." Wei Jun tertawa sinis. "Menguji? Atau *menyingkirkanku* agar putra kesayanganmu, Li Wei, bisa naik tahta tanpa saingan?" "CUKUP!" Kaisar Li membentak, mencoba mengumpulkan kembali kewibawaannya. "Kau tidak tahu apa-apa!" "Aku tahu lebih dari yang kau kira, Ayah." Wei Jun berhenti tepat di depan Kaisar Li. Matanya berkilat dingin. "Aku tahu tentang racun yang kau berikan pada Ibuku. Aku tahu tentang pengkhianatan Jenderal Zhao yang kau biayai. Aku tahu tentang *semua kebohonganmu*." "Itu… itu semua demi kerajaan!" Kaisar Li terengah-engah, berusaha membela diri. "Demi kerajaan? Atau demi ambisimu sendiri?" Wei Jun mendekatkan wajahnya, berbisik pelan. "Tahukah kau, Ayah, bahwa selama sepuluh tahun ini, aku telah mengumpulkan kekuatan? Aku telah membangun aliansi rahasia? Aku telah menunggu saat yang tepat untuk *menjatuhkanmu*?" Kaisar Li menatap putranya dengan ngeri. Untuk pertama kalinya, dia melihat *monster* yang telah diciptakannya sendiri. "Kau pikir aku korban, Ayah?" Wei Jun melanjutkan, bibirnya melengkung sinis. "Kau salah. Aku adalah *dalang* di balik semua ini. Aku yang merencanakan 'kematianku' sendiri. Aku yang membiarkan Li Wei berkuasa, hanya untuk melihat kerajaanku hancur di tangannya yang lemah. Aku yang menabur benih keraguan dan pemberontakan di seluruh negeri." Kaisar Li jatuh berlutut, air mata mengalir di pipinya. "Kau… kau menghancurkan kerajaanku sendiri?" Wei Jun tersenyum dingin. "Tidak, Ayah. Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Dan sebagai hukumannya… kerajaan ini akan dibangun kembali di atas *abu kebohonganmu*." Wei Jun berbalik, meninggalkan Kaisar Li yang terpuruk. Di lorong yang sunyi, suara langkah kakinya bergema, membawa bersamanya janji *pembalasan* yang akan mengguncang seluruh dinasti. *** ***"Dia bukanlah pahlawan, dia bukanlah penjahat. Dia hanyalah RAJA yang membangun takhtanya di atas keruntuhan hati."***
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil
Share on Facebook