## Janji yang Kuterjemahkan Jadi Pengkhianatan Langit Jakarta malam itu lebih redup dari baterai *lowbat*. Sinyal WiFi berkedip-kedip seperti jantung yang hampir berhenti berdetak. Di apartemen minimalisnya, Layla menatap layar ponsel, menunggu balasan pesan dari seseorang yang bahkan dia tak yakin *exist*. "Sedang mengetik…" tulisnya, menggantung di sana seperti janji palsu. Layla adalah seorang *time-hopper* amatiran. Bukan dengan mesin waktu sungguhan, tapi dengan aplikasi usang yang katanya bisa mengirim pesan ke masa lalu. Gila, memang. Tapi Layla, dengan hidupnya yang *glitchy* dan penuh notifikasi push yang tak pernah dia baca, merasa perlu melakukan sesuatu yang *out of the box*. Di sisi lain dimensi, di sebuah kedai kopi remang-remang tahun 1988, duduklah Arjuna. Rokok kretek mengepul di antara jemarinya yang kasar. Ia menatap surat cinta di atas meja, tinta basah seakan meneteskan air mata. Surat itu, anehnya, bertuliskan *font* Arial dan ditandatangani 'L.2042'. Ia menganggapnya lelucon yang kurang lucu, tapi entah kenapa, ia tak bisa berhenti membacanya berulang kali. "Mungkin ini… pesan dari *Dewa*," bisik Arjuna, mencoba memahami dunia yang asing dan futuristik yang digambarkan Layla. Dunia dengan mobil terbang dan mie instan rasa *unicorn*. Dunia tanpa kaset dan obrolan warung kopi. Mereka saling bercerita. Layla tentang dunia yang hancur oleh algoritma dan polusi. Arjuna tentang dunia yang dibangun di atas impian dan gotong royong. Cinta mereka tumbuh dari celah waktu, terjalin dari kata-kata yang terdistorsi, emosi yang tertunda, dan emoji yang salah tafsir. Namun, semakin dalam mereka menyelami perasaan satu sama lain, semakin *aneh* pula kejanggalan yang mereka rasakan. Foto-foto yang dikirim Layla tampak familiar bagi Arjuna. Lagu-lagu yang dinyanyikan Arjuna seolah pernah didengar Layla dalam mimpi. Suatu malam, Layla mengirimkan foto sebuah cincin perak yang pernah hilang milik neneknya. Arjuna tertegun. Ia menemukan cincin yang sama persis di saku jaketnya. Jaket yang ia temukan di sebuah lemari antik bertuliskan, "Jangan dibuka sebelum tahun 2042." Kebenaran menghantam mereka seperti *meteor*. Mereka BUKAN dua orang asing yang saling menemukan cinta. Mereka adalah *dua sisi dari satu koin yang sama*. Layla adalah reinkarnasi Arjuna. Arjuna adalah *proyeksi* Layla dari masa lalu. Cinta mereka adalah *elegi*, bukan permulaan. Program aplikasi yang Layla gunakan bukanlah mesin waktu, melainkan *trigger* memori genetik yang membangkitkan kenangan Arjuna dalam dirinya. Surat-surat cinta itu bukan pesan, melainkan *fragmen* ingatan yang berusaha menyusun diri. Mereka adalah *gema* dari kehidupan yang tak pernah selesai. Mereka mencintai *bayangan* diri sendiri, terperangkap dalam lingkaran waktu yang tak berujung. Dan sebelum pesan terakhir terkirim, sebelum sinyal benar-benar hilang, Layla menulis, "…mungkin kita hanyalah *error* dalam matriks kehidupan…"
You Might Also Like: Fakta Menarik Sunscreen Zinc Oxide Dan
Share on Facebook