Cerpen Terbaru: Kau Merobek Sumpah, Lalu Memintaku Tetap Percaya
Kau Merobek Sumpah, Lalu Memintaku Tetap Percaya
Malam itu abadi. Kegelapan merayap di antara paviliun istana yang sunyi, dingin menusuk tulang seperti tusukan belati. Salju turun tanpa henti, menyelimuti segalanya dengan kain kafan putih yang ternoda. Noda itu... darah. Merah menyala di atas kanvas kematian.
Di dalam paviliun, dupa terbakar rendah, asapnya menari-nari seperti arwah penasaran. Di tengah kepulan asap itu, berdirilah Mei Lan. Gaun sutranya yang dulunya semerah delima kini kotor dan berlumuran noda yang sama dengan salju di luar. Matanya, dulu secerah bintang, kini adalah danau beku, memantulkan api kemarahan dan kepedihan yang tak terperi.
Di hadapannya, berlututlah Li Wei. Kaisar yang dulu dia cintai, raja yang dia sumpah setia. Wajahnya, yang dulu tampan bagai pahatan dewa, kini dipenuhi garis penyesalan dan ketakutan. Di tangannya tergenggam pecahan jimat giok – jimat sumpah mereka. Pecah berkeping-keping, sama seperti hatinya.
"Kau... kau merobeknya, Li Wei," bisik Mei Lan, suaranya serak bagai gesekan batu. "Di altar suci, kau bersumpah setia kepadaku. Di depan para leluhur, kau menjanjikan cinta abadi. Lalu kau merobeknya!"
Li Wei mendongak, air mata membekas di pipinya. "Mei Lan... percayalah padaku. Aku... terpaksa. Ada kekuatan yang lebih besar dari diriku."
Mei Lan tertawa hambar. Tawa tanpa kebahagiaan, hanya gema kehampaan. "Kekuatan yang lebih besar? Kau mengorbankan cintaku demi kekuasaan? Demi tahta yang berlumuran darah orang tak bersalah?"
Rahasia itu akhirnya terkuak. Bertahun-tahun Mei Lan hidup dalam bayang-bayang, tidak tahu bahwa Li Wei, yang dia cintai sepenuh hati, telah berkomplot dengan selir kesayangannya, Selir Yu, untuk menyingkirkannya dan keluarganya. Fitnah, pengkhianatan, pembantaian... semua demi kekuasaan.
Di masa lalu, Mei Lan dan Li Wei adalah dua anak manusia yang saling mencintai di tengah badai politik dan intrik istana. Mereka berjanji setia, membangun impian di atas pasir yang tampaknya kokoh. Namun, pasir itu hanyut, meninggalkan mereka dalam reruntuhan.
Mei Lan mengulurkan tangan, mengambil pecahan jimat yang tergeletak di lantai. Serpihan itu tajam, melukai telapak tangannya. Darah menetes, bercampur dengan abu dupa. Janji di atas abu. Sebuah metafora yang menyakitkan.
"Kau tahu, Li Wei," kata Mei Lan, suaranya tenang, berbahaya. "Kebencian adalah api yang membakar lebih lama dari cinta. Dan aku... Aku akan pastikan kau merasakan setiap jilatannya."
Dengan gerakan anggun, Mei Lan mengeluarkan belati perak dari balik lengan bajunya. Belati itu berkilauan di bawah cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah tirai. Li Wei menutup matanya, pasrah.
Tidak ada jeritan, tidak ada permohonan. Hanya suara belati yang menembus daging, dan keheningan yang lebih pekat dari malam.
Mei Lan berdiri di atas mayat Li Wei, bayangan yang memanjang di dinding. Balas dendamnya telah ditunaikan. Tapi di matanya, tidak ada kemenangan. Hanya kehampaan.
Dia membersihkan belati itu dengan kain sutra, lalu membuangnya ke dalam bara dupa. Api melahapnya, mengubahnya menjadi abu.
Mei Lan berbalik, berjalan keluar dari paviliun, meninggalkan istana yang berlumuran darah dan pengkhianatan. Dia menghilang ke dalam malam, menjadi satu dengan salju dan kegelapan. Balas dendamnya sempurna, tenang, dan mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu.
Dan di tengah keheningan itu, angin berbisik, "Kau telah membalas dendam, Mei Lan... tapi siapa yang akan membalaskan dendam hatimu?"
You Might Also Like: Jualan Skincare Fleksibel Kerja Dari