Cerpen Terbaru: Senyum Yang Tak Sempat Kuterima
Senyum yang Tak Sempat Kuterima
Desir angin musim gugur membawa aroma Gui Hua yang manis, tapi hati Lan Wei dingin membeku. Di kehidupannya saat ini, sebagai seorang desainer perhiasan yang sedang naik daun di Shanghai, dia tak seharusnya mengingat. Tak seharusnya dihantui bayangan Istana Timur, jubah sutra merah, dan senyum penuh janji yang kini terasa seperti belati.
Dulu, di dinasti Changling, dia adalah Permaisuri Zhen, dicintai dan dihormati Kaisar Yongtai. Atau begitulah yang dia kira. Ingatan itu datang seperti kilatan petir: suara tawa genit di balik tirai bambu, bisikan mesra di taman terlarang, dan aroma dupa yang bukan milik dirinya.
Dulu, dia percaya pada cinta abadi. Sekarang, dia hanya percaya pada intuisi.
Sebuah kalung giok phoenix, identik dengan yang dulu ia kenakan, terpajang di butik mewah. Dia menyentuhnya. Sentuhan yang aneh. Seperti menyentuh kenangan. Di saat itulah, bayangan wajah pria itu muncul di benaknya. Bukan Kaisar Yongtai yang gagah perkasa, tapi Wang Chao, kasim kepercayaannya, mata-matanya, sahabatnya. Dia.
Wang Chao. Di kehidupan ini, dia adalah Tuan Wu, investor berpengaruh yang mendekatinya dengan proyek ambisius. Dia menawarkan bantuan, dukungan, bahkan cinta. Senyumnya… familiar, tapi menjijikkan.
Lan Wei tahu. Wang Chao dulu berkhianat karena haus kekuasaan. Dia meracuni Kaisar, memfitnahnya, dan mendorongnya ke jurang keputusasaan hingga ajal menjemput. Balas dendam? Tidak. Lan Wei tak tertarik dengan darah.
Dia akan menghancurkan Wang Chao dengan cara yang lebih elegan.
Proyek ambisius itu… akan dia ubah. Dia akan menjeratnya dalam jaringan kontrak yang rumit, membuatnya kehilangan segalanya: kekayaan, reputasi, harga diri. Dia akan membuktikan bahwa cinta sejati, loyalitas, dan kejujuran adalah permata yang lebih berharga dari takhta.
Di malam gala peluncuran koleksi terbarunya, Lan Wei melihat Wang Chao, atau Tuan Wu, berdiri di tengah kerumunan. Pria itu tersenyum. Kali ini, Lan Wei membalasnya dengan senyum dingin. Senyum yang tak sempat dia terima dulu, di Istana Timur yang penuh dusta.
"Kau akan membayar semuanya," bisiknya, hanya untuk dirinya sendiri.
Lampu-lampu kota Shanghai berkilauan bagai bintang-bintang yang jatuh, menyaksikan kejatuhan seorang pria dan kebangkitan seorang wanita. Wanita yang mengingat. Wanita yang memilih.
Seribu tahun lagi pun, kau tak akan bisa menebusnya.
You Might Also Like: Jual Skincare Yang Cocok Untuk Semua_27