Drama Abiss! Cinta Yang Menjadi Awal Perang
Kabut menggantung di atas Danau Barat, seputih janji yang baru saja diucapkan. Di sana, dalam ketenangan pagi yang menipu, Lian, seorang putri dari Dinasti Baihua, tertawa. Tawanya bagai lonceng perak, namun menutupi riwayat yang terukir dalam KEBOHONGAN. Ia mencintai Jenderal Zhao, pahlawan dari Dinasti Xuanwu, musuh bebuyutan kerajaannya.
Zhao, dengan mata setajam elang dan hati seluas samudra, melihat Lian sebagai matahari di tengah kegelapan perang. Ia mencari kebenaran, kebenaran tentang perseteruan yang telah merenggut keluarganya, kebenaran yang tersembunyi di balik senyum manis Lian. Ia tidak tahu bahwa setiap ciuman, setiap bisikan cinta, adalah benang yang merajut JARING KEMATIAN.
"Aku bersumpah akan melindungimu, Lian," ucap Zhao suatu malam, bintang-bintang menjadi saksi bisu. Kata-kata itu menusuk Lian bagai belati. Ia mencintai Zhao, sungguh mencintainya, namun ia juga terikat pada kewajiban, pada darah yang mengalir dalam nadinya. Ia adalah pewaris takhta Baihua, dan takhtanya dibangun di atas DENDAM terhadap Xuanwu.
Hari-hari berlalu bagai mimpi buruk yang indah. Pertemuan rahasia di bawah pohon sakura, surat-surat cinta yang diselundupkan melewati perbatasan, semuanya menari-nari di atas jurang pengkhianatan. Konflik dalam diri Lian semakin merobek hatinya. Cinta dan tugas, Zhao dan Baihua, keduanya menariknya ke arah yang berlawanan. Ia ingin memilih, namun takdir telah mengukir jalannya.
Kemudian, kebenaran meledak.
Zhao, melalui jaringan mata-mata yang ia bangun, menemukan bukti bahwa Baihua-lah yang memulai perang bertahun-tahun lalu, membantai keluarganya dan menyebarkan fitnah untuk membenarkan tindakan mereka. Dan yang lebih menyakitkan, ia menemukan surat-surat perintah yang ditandatangani oleh Lian sendiri, memerintahkan penyergapan terhadap pasukannya.
Ia hancur. Lebih dari kehancuran kerajaannya, hatinya remuk redam.
Mereka bertemu di Danau Barat, tempat cinta mereka bersemi. Kabut pagi tidak lagi menenangkan, melainkan bagai kain kafan yang membungkus masa lalu mereka.
"Lian," suara Zhao lirih, "Bagaimana bisa kau melakukan ini?"
Lian tidak menjawab. Air mata mengalir di pipinya, membasahi pakaian sutranya. Ia tahu, INI AKHIRNYA.
"Kebenaran selalu menyakitkan, Zhao," bisiknya akhirnya. "Namun, kadang-kadang, kebohongan jauh lebih mematikan."
Zhao tertawa getir. "Kau benar. Cinta kita... adalah kebohongan."
Tidak ada pertengkaran, tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang berat, seberat gunung yang runtuh. Zhao berbalik dan pergi, punggungnya tegap, langkahnya mantap. Di tangannya, ia menggenggam sebilah pedang.
Balas dendam Zhao tidak berteriak, tidak berdarah. Ia tidak menyerang Baihua dengan pasukan. Ia menyerang dengan akal. Ia memanipulasi politik, memutarbalikkan aliansi, dan menghancurkan ekonomi Baihua dari dalam. Ia membuat kerajaan itu layu, perlahan tapi pasti, tanpa setetes darah pun tumpah.
Ia menciptakan NERAKA YANG TENANG.
Pada akhirnya, Dinasti Baihua runtuh. Lian, menyaksikan kerajaannya hancur, hanya bisa tersenyum tipis. Ia tahu, ini adalah harga yang harus ia bayar.
Zhao tidak pernah bertemu Lian lagi. Ia hanya mengirimkan selembar surat.
"Aku telah menghancurkan kerajaannya, Lian. Sekarang, aku akan menghancurkan hatiku sendiri."
Di atas Danau Barat, kabut pagi kembali menggantung. Di balik ketenangannya, tersembunyi sejarah cinta dan pengkhianatan, kebohongan dan kebenaran, yang akan terus berbisik kepada angin.
Akankah bayangan cinta yang hilang menghantui mereka selamanya?
You Might Also Like: 165 Converting Millimeters And