Dracin Seru: Langit Yang Mengutuk Keturunan
Langit yang Mengutuk Keturunan
Angin gunung Wuyi berbisik lirih, membawa aroma teh dan dendam yang terpendam. Di lembah terpencil itulah, tumbuh besar dua pemuda: Lian, si pewaris tunggal keluarga Bai yang disegani, dan Hua, anak angkat yang lincah dan cerdas, selalu selangkah di belakang Lian, namun setara dalam segalanya.
"Lian, lihatlah elang itu! Ia terbang bebas, tak terikat," ujar Hua suatu senja, menunjuk langit yang mulai keunguan.
Lian tersenyum tipis. "Kebebasan adalah ilusi, Hua. Kita semua terikat, oleh takdir, oleh DARAH."
Mereka bersahabat, bersaing, dan saling melindungi. Namun, di balik senyum persahabatan itu, tersembunyi tatapan penuh perhitungan. Lian selalu merasa ada yang disembunyikan Hua. Hua, sebaliknya, selalu merasa diawasi, dinilai, dan diperlakukan seperti bidak catur.
Misteri mulai terkuak saat serangkaian kejadian aneh menimpa keluarga Bai. Tanaman teh mereka layu, sumber air tercemar, dan kematian misterius menghantui. Lian, dengan kecurigaan yang tumbuh subur, mulai menyelidiki. Ia menemukan petunjuk yang mengarah pada satu nama: Hua.
"Mengapa, Hua? Mengapa kau mengkhianati kami?" tanya Lian, suaranya bergetar antara amarah dan kekecewaan.
Hua tertawa sinis. "Mengkhianati? Atau membalas dendam? Kau terlalu naif, Lian. Kau tahu nama keluarga Bai disegani, tetapi tidak dengan cara apa hormat itu didapatkan!"
Hua mengungkapkan sebuah rahasia kelam: keluarga Bai, berpuluh tahun lalu, telah menghancurkan keluarga Hua, merampas tanah dan kehidupan mereka. Ayah Hua, sebelum meninggal, menitipkan dendam ini pada Hua kecil.
"Langit ini MENGUTUK keturunan Bai! Aku hanya menjalankan keadilan," desis Hua, matanya menyala penuh kebencian.
Lian terkejut. Ia tak pernah tahu sejarah kelam keluarganya. Namun, ia adalah pewaris Bai, terikat sumpah untuk melindungi keluarganya.
"Kau salah, Hua. Membalas dendam tidak akan membawa kedamaian," jawab Lian, pedangnya sudah terhunus.
Pertarungan pun tak terhindarkan. Dua sahabat, dua saudara, kini menjadi musuh abadi. Pedang mereka beradu di bawah langit yang sama yang dulu mereka pandangi dengan impian yang sama.
Pertempuran berakhir dengan tragis. Lian terluka parah, namun berhasil melumpuhkan Hua.
"Kenapa... kenapa kau lakukan ini, Hua?" tanya Lian, dengan sisa tenaganya.
Hua tersenyum pahit. "Karena... aku tidak punya pilihan. Aku adalah keturunan yang dikutuk."
Lian menatap Hua dengan tatapan yang sulit diartikan. Kesedihan, kekecewaan, dan mungkin sedikit pengertian.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Hua berbisik: "Sebenarnya, aku tidak pernah membenci dirimu..."
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Lokal