Cerpen Keren: Senyum Yang Menutup Pintu Neraka
Senyum yang Menutup Pintu Neraka
Malam itu sunyi, sepi seperti alunan guqin yang berbisik di telinga. Hujan gerimis membasahi jendela paviliunku, serupa air mata yang tak pernah benar-benar tumpah. Di dalam, aku, Lin Mei, duduk bersimpuh di depan meja rendah, menuangkan arak ke dalam cawan porselen.
Lima tahun. Lima tahun aku menyimpan rahasia ini. Lima tahun aku menyaksikan kebahagiaan palsu mereka, He Xian dan Li Wei, di atas penderitaanku. He Xian, tunanganku, pria yang kucintai lebih dari hidupku sendiri. Li Wei, sahabatku, belahan jiwaku. Mereka berdua mengkhianatiku.
Bukan karena cinta segitiga yang klise. Bukan hanya itu. Ada sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang mengikat kami bertiga dalam pusaran takdir yang mengerikan. Rahasia itu... tentang malam kebakaran di gudang keluarga Li. Malam dimana ayah Li Wei meninggal.
Aku tahu siapa yang memulai api. Aku MELIHATNYA. Tapi aku memilih diam. Bukan karena aku lemah, bukan karena aku takut. Aku diam karena... aku melindungi He Xian.
Dulu, aku berpikir cintaku padanya akan cukup untuk menebus dosa-dosanya. Aku salah.
Pernikahan mereka megah, dihadiri oleh seluruh bangsawan kota. Aku tersenyum. Senyum pahit yang menyembunyikan badai di dalam hati. Setiap hari, aku melihat He Xian semakin makmur, bisnisnya berkembang pesat, kekayaannya berlipat ganda. Li Wei, dengan wajahnya yang polos, selalu berterima kasih padaku karena sudah "menerima" pernikahan mereka.
Mereka tidak tahu. Mereka SAMA SEKALI TIDAK TAHU bahwa setiap sen kekayaan He Xian dibangun di atas abu dan kesedihan.
Namun, ada satu hal yang membuatku penasaran. Setelah kebakaran, keluarga Li kehilangan banyak sekali dokumen penting. Dokumen yang berisi… detail tentang tambang emas tersembunyi milik keluarga. Hilangnya dokumen itu, dan kematian ayah Li Wei, membuka jalan bagi He Xian untuk menguasai bisnis keluarga Li.
Awalnya aku pikir He Xian mencuri dokumen itu sebelum membakar gudang. Tapi, ada yang aneh. Beberapa hari yang lalu, aku menemukan sebuah kotak musik tua di loteng. Kotak musik itu milik ayah Li Wei. Di dalamnya, tersembunyi sebuah gulungan tersembunyi. Gulungan itu... adalah salinan peta tambang emas.
Lalu, aku mengerti.
He Xian tidak mencuri dokumen aslinya. Ayah Li Wei menyembunyikannya. Tapi… KEPADA SIAPA dia memberikan kotak musik itu? KAPAN?
Malam ini, He Xian dan Li Wei datang menemuiku. Mereka membawakan hadiah, kain sutra dari Suzhou. Senyum mereka manis, terlalu manis.
"Lin Mei, kami sangat berterima kasih padamu," kata Li Wei, suaranya lembut.
Aku tersenyum kembali. Senyum yang berbeda. Senyum yang MENUTUP PINTU NERAKA.
Aku menuangkan arak untuk mereka berdua. Arak yang sudah kucampur dengan ramuan rahasia. Ramuan yang tidak akan membunuh mereka. Tapi akan… membuka mata mereka.
Saat mereka meneguk arak, aku mengeluarkan kotak musik itu. Aku membukanya. Alunan musik yang lirih memenuhi ruangan.
"Kotak musik ini… milik ayahmu, Li Wei," kataku, menatapnya. "Di dalamnya, ada salinan peta tambang emas keluarga Li. Ayahmu… menyembunyikannya. Pertanyaannya adalah… siapa yang dia percayai?"
Wajah Li Wei pucat pasi. He Xian terdiam, matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Kemudian, Li Wei berteriak. Bukan karena marah. Tapi karena TERINGAT. Dia teringat akan malam terakhirnya bersama ayahnya. Malam dimana ayahnya memberikan kotak musik itu… kepadanya. Dia masih kecil saat itu. Dia lupa. Dia benar-benar lupa.
Tapi sekarang dia ingat. Dan dengan ingatan itu, KEBENARAN terungkap.
He Xian, yang selalu haus akan kekayaan, mencoba membunuh Li Wei malam itu untuk merebut peta tambang. Namun, karena kebakaran, ia gagal. Dan tanpa ia sadari, ia terus hidup di atas harta warisan Li Wei.
Takdir telah berbalik. He Xian akan kehilangan segalanya. Bisnisnya, kekayaannya, dan yang paling penting, Li Wei. Kebenaran ini akan menghancurkan mereka berdua, tanpa perlu aku mengangkat satu jari pun.
Aku bangkit berdiri. Hujan semakin deras.
"Pergilah," kataku, suaraku dingin. "Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan. Sekarang… bayarlah harganya."
Mereka pergi. Meninggalkanku sendiri di paviliun yang sunyi. Aku menatap cawan arakku.
Ternyata, kebahagiaan sejati… tidak selalu tentang memiliki. Kadang, kebahagiaan adalah… mengetahui kapan melepaskan.
Malam itu, aku menyadari bahwa rahasia yang kupendam selama ini… bukan hanya melindungi He Xian. Tapi juga… melindungi diriku sendiri.
Di luar sana, badai mengamuk. Di dalam sini, aku merasa damai.
Tapi aku tahu, damai ini… tidak akan bertahan lama, karena takdir memiliki cara yang unik untuk membalas... dan akulah yang akan menerima balasan itu.
You Might Also Like: 10 Special Ways For Principals To