Cerita Seru: Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku Yang Gagal
Aku Mencintaimu Meski Tuhan Melarang, Karena Kau Adalah Doaku yang Gagal
Sunyi. Istana yang dulu gemerlap kini terasa dingin dan kosong. Mei Lan berdiri di balkon, gaun sutra merahnya berkibar tertiup angin malam. Dahulu, gaun ini adalah simbol kekuasaan, simbol cintanya pada sang Kaisar, cinta yang kini hanya terasa seperti pecahan kaca di hatinya.
Dulu, ia hanyalah seorang gadis desa, lugu dan penuh mimpi. Ketampanan dan janji Kaisar Li Wei telah membutakannya. Ia rela meninggalkan segalanya, menjadi selir kesayangan, yakin bahwa cintanya akan mengubah dunia. Tapi dunia istana kejam. Cinta adalah komoditas, dan kekuasaan adalah segalanya. Li Wei, yang dulu memujanya, kini hanya melihatnya sebagai pion dalam permainan politik.
Mei Lan mengingat malam itu. Malam ketika ia difitnah, dikhianati oleh orang-orang yang ia percaya. Di depan matanya, ibunya disiksa, kekayaannya dirampas, dan ia sendiri diasingkan ke paviliun terpencil. Di sana, di tengah kesunyian dan kesepian, Mei Lan yang dulu MATI. Lahir Mei Lan yang baru, seorang wanita yang ditempa oleh api pengkhianatan.
"Aku akan kembali," bisiknya pada angin, suaranya bagai desau daun yang tajam.
Waktu berlalu. Mei Lan mempelajari segalanya. Diplomasi, strategi, seni bela diri. Ia belajar merayu, memanipulasi, dan menghancurkan tanpa setetes darah pun. Ia menjadi BAYANGAN, berbisik di telinga para pejabat, menari dalam gelap, menarik benang-benang takdir.
Ia menggunakan kecantikannya sebagai senjata. Senyumnya yang dulu tulus, kini adalah topeng. Matanya yang dulu penuh cinta, kini menyimpan lautan es. Ia memanipulasi orang-orang di sekeliling Li Wei, perlahan tapi pasti meruntuhkan kerajaannya dari dalam. Ia tidak berteriak, tidak mengamuk. Ia bergerak dengan KETENANGAN seorang ahli bedah, membedah kebohongan dan keserakahan yang telah merajalela.
Suatu malam, Li Wei memanggilnya. Ia duduk di singgasana, wajahnya pucat dan lelah. Di hadapannya berdiri Mei Lan, anggun dan mempesona.
"Mei Lan… mengapa?" tanyanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Mei Lan tersenyum tipis. "Dulu, aku mencintaimu, Li Wei. Tapi kau menghancurkan cintaku, menghancurkan diriku. Kau mengambil segalanya dariku. Sekarang, giliranku."
Ia tidak mengucapkan kata-kata kasar, tidak memaki. Ia hanya menatapnya dengan tatapan dingin, tatapan seorang Dewi Kematian. Li Wei tahu, ia telah kalah. Bukan karena kekuatan militer, bukan karena pengkhianatan, tapi karena seorang wanita yang dulu ia remehkan.
Ia mengambil cermin kecil dari sakunya. Cermin yang dulu selalu dibawanya, cermin yang dulu memantulkan wajah bahagia seorang gadis. Ia menyerahkannya pada Li Wei.
"Lihatlah dirimu," bisiknya. "Lihat apa yang telah kau lakukan."
Li Wei menatap cermin itu. Ia melihat bayangan dirinya, seorang pria tua, lemah, dan penuh penyesalan. Ia menjatuhkan cermin itu. Pecahannya berserakan di lantai, seperti pecahan cintanya dan Mei Lan.
Mei Lan berbalik, meninggalkan Li Wei dalam kesunyian dan keputusasaannya. Ia melangkah keluar istana, diiringi tatapan hormat dan ketakutan. Ia telah mendapatkan kembali segalanya, bahkan lebih. Ia telah menghancurkan orang yang menghancurkannya. Tapi hatinya tetap hampa.
Di bawah langit malam, Mei Lan tersenyum. Senyum yang bukan lagi topeng, tapi senyum kebebasan. Senyum seorang wanita yang telah menaklukkan kegelapan. Ia mengangkat dagunya, membiarkan angin memainkan rambutnya.
"Aku mungkin adalah doamu yang gagal, Li Wei, tapi aku adalah PENGUASAAN atas takdirku sendiri."
You Might Also Like: In Photos Deion Sanders Girlfriend