FULL DRAMA! Racun Yang Mengikat Jantungku
Hujan menggigil, persis seperti dulu. Dinginnya merasuk tulang, membawa serta kenangan pahit yang selama ini kubungkam rapat. Di lembah ini, tempat dulu cinta kita bersemi, aku berdiri menatapnya. Lin Feng. Wajahnya menua, garis-garis kesedihan tercetak jelas di sana. Dulu, wajah itu adalah matahariku. Sekarang, hanya bayangan patah yang tersisa.
"Lama tak jumpa, Xiao Mei," suaranya berat, sarat akan rasa bersalah yang datang terlambat.
Aku tidak menjawab. Bibirku kelu. Kata-kata yang dulu ingin kuucapkan, seribu keluhan, sejuta makian, kini menguap bersama uap napas yang membeku di udara.
Dia mendekat, tatapannya memohon. "Maafkan aku, Xiao Mei. Dulu… aku bodoh. Aku terlambat menyadari…"
Lentera di tangan pengawal Lin Feng nyaris padam, cahayanya berkedip-kedip seperti harapan yang sekarat. Sama seperti hatiku dulu, perlahan direnggut dariku. Dulu, aku percaya padanya. Aku mencintainya dengan segenap jiwa. Aku menyerahkan segalanya. Dan dia… mengkhianatiku.
Dia menikahi wanita lain. Wanita dari keluarga yang lebih berkuasa. Wanita yang menjanjikan kekayaan dan status. Dia memilih kekuasaan daripada cinta. Dan aku ditinggalkan, hancur berkeping-keping.
"Kau terlambat, Lin Feng," akhirnya aku bersuara. Suaraku serak, dingin. "Sangat terlambat."
Dia menggeleng. "Tidak, Xiao Mei. Aku masih bisa memperbaiki semuanya. Aku bisa…"
"Memperbaiki apa?" Aku tertawa sinis. Tawa yang lebih pahit dari racun. "Memperbaiki hati yang sudah kau hancurkan? Memperbaiki hidup yang sudah kau curi? Kau pikir semudah itu?"
Dia terdiam. Matanya menunjukkan kepedihan yang mendalam. Aku tahu, dia menyesal. Tapi penyesalannya tidak berarti apa-apa bagiku. Terlalu banyak air mata yang sudah kutumpahkan. Terlalu banyak luka yang sudah kurasakan.
Aku mendekat, menatap matanya dengan tatapan sedingin es. "Kau tahu, Lin Feng? Selama bertahun-tahun, aku memikirkanmu. Aku merencanakan ini. Setiap detilnya."
Dia tampak bingung. "Merencanakan… apa?"
Aku tersenyum. Senyum yang tidak mencapai mata. Senyum yang menyimpan dendam yang membara.
"Balas dendam."
Lampu lentera benar-benar padam, meninggalkan kami dalam kegelapan yang pekat. Hujan semakin deras, menyamarkan suara gemerisik kain. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma kematian yang mendekat.
"Selama ini, Lin Feng, kau pikir kau yang memegang kendali. Tapi kau salah."
Aku memegang liontin di leherku, liontin yang sama yang dulu dia berikan padaku sebagai tanda cinta. Liontin yang sudah kuracuni selama bertahun-tahun, dosis kecil yang perlahan-lahan merusak kesehatannya.
"Ingat penyakitmu yang misterius, Lin Feng?" Aku berbisik, suaraku nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan.
Dia memucat. Matanya membulat, penuh dengan ketakutan dan pemahaman yang terlambat.
"Siapa yang mengirimkan surat tanpa nama yang mengungkap kebenaran tentang malam kebakaran itu?"
Kebenaran tentang malam itu… terungkap, namun TERLAMBAT.
You Might Also Like: Skincare Alami Untuk Kulit Sensitif